Pameran Visual Jalanan: Bebas Tapi Sopan

VISUAL JALANAN: BEBAS TAPI SOPAN (FREE BUT PROPER)

PENGANTAR/PREFACE

KURATOR/CURATORS
Abi Rama
& Andang Kelana

SENIMAN/ARTISTS
Ace House Collective
(YK)
Agung “Abe” Natanael (Jkt)
Angga Cipta (Jkt)
Anggun Priambodo (Jkt)
Bujangan Urban (Jkt)
Dinas Artistik Kota (Jkt)
Gardu House (Jkt)
Klub Karya Bulu Tangkis + Ricky Janitra (Jkt)
Milisi Mural Depok (kota Depok)
Methodos(Yk)
The Popo (Jkt)
Tutu (Jkt)
ruangrupa (Jkt)
Stenzilla (Jkt)

LOKASI/LOCATION
Galeri Nasional Indonesia
Jalan Medan Merdeka Timur No. 14
Jakarta Pusat

PEMBUKAAN/OPENING
26 Oktober 2015
19.00 – 23.00 WIB 

PAMERAN/EXHIBITION
27 Oktober – 16 November 2015
10.00 – 19.00 WIB


PANITIA PAMERAN/EXHIBITION COMMITTEE


Penasehat

Artistik/Artistic Adviser
Hafiz Rancajale, Mahardika Yudha

Asisten Kurator/Curator Assistant
Umi Lestari

Manajer Pameran/Exhibition Manager
Chrismastuti Destriyani

Tim Produksi/Production Team
Hanif Alghifary, “Rambo” Rachmadi, M. Fauzan Chaniago, Dalu Kusma, Gelar A. Soemantri, Ario Fazrien

Display
SERRUM, Klub Karya Bulu Tangkis

Database
Ario Fazrien, Dalu Kusma

Publikasi/Publication
Andang Kelana

Dokumentasi/Documentation
Ario Fazrien, Idham Hudayah, Nissal Nur Arfansyah

Jalanan adalah “kanvas” terbuka dan setiap orang bebas menorehkan maknanya di sana. Namun, kebebasan tidak hadir secara cuma-cuma—ada negosiasi bahkan konfrontasi yang terusmenerus berlangsung di ruang publik. Di satu sisi publik dan seniman bisa memproduksi objek visual di jalanan, di sisi lain aparat pemerintah bisa menghapusnya, dan pihak korporasi getol berburu ruang untuk memasang iklan.

Menanggapi fenomena ini, Forum Lenteng dan Kampung Segart menggagas sebuah program bersama dengan nama Visual Jalanan. Sejak 2012, Visual Jalanan aktif mengarsipkan serta membahas aktivitas visual di jalanan—mural, grafiti, tanda jalan, papan peringatan, poster, spanduk, ataupun tulisan warga di suatu tempat—melalui jurnal daring visualjalanan.org dan akun Instagram @visualjalanan.

Hasil kerja Visual Jalanan selama ini dipamerkan dalam pameran ‘Bebas Tapi Sopan’ yang dikuratori oleh Abi Rama dan Andang Kelana—sebagai bagian dari ‘Jakarta Biennale 2015: Maju Kena, Mundur Kena’. Pameran ini turut mengundang belasan seniman, baik individu maupun kelompok, yang terinspirasi dari objek-objek yang ditemukan di jalanan. Pada Januari 2016, pameran ini menerbitkan katalog pasca-acara.

Pameran ‘Visual Jalanan: Bebas tapi Sopan’ didukung Forum Lenteng, Yayasan Jakarta Biennale, Dewan Kesenian Jakarta, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Galeri Nasional Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Gardu House, Serrum, dan ruangrupa.

The street is a blank ‘canvas’ on which anyone can freely inscribe meanings. however, freedom is not without costs – there is an ongoing negotiation or even confrontation in the public space. Laymen and artists can create visual objects on the streets, but the government can erase them while corporations relentlessly pursue advertising space.

In response to this phenomenon, Forum Lenteng and Kampung Segart initiated a program called Visual Jalanan (‘Street Visual’). Since 2012, the program has been actively archiving and discussing visual activities on the streets—murals, graffiti, street signages, warning signs, posters, banners, or just plain writings— through the online journal visualjalanan. org and the Instagram account @visualjalanan.

The works are then displayed in the exhibition called ‘Free but Proper’, curated by Abi Rama and Andang Kelana—as part of ‘Jakarta Biennale 2015: Neither Forward nor Back.’ The exhibition gathers over a dozen of artists, both individuals and groups, who are inspired by the objects found on the streets. In January 2016, the exhibition will publish a post-event catalog.

‘Street Visual: Free but Proper’ exhibition is supported by Forum Lenteng, the Jakarta Biennale Foundation, the Jakarta Arts Council, the Jakarta Tourism and Culture Office, the Indonesia National Gallery, the Ministry of Education and Culture, Gardu House, Serrum and ruangrupa. 

KARYA/WORKS


ACE HOUSE COLLECTIVE (Yogyakarta)


Ace House Collective (terbentuk di Yogyakarta, 2011) adalah kolektif seniman yang melakukan praktik kerja kreatif melalui pendekatan media populer dan anak muda secara teori maupun praktek, kontekstual dan konseptual, serta menemukan kemungkinan-kemungkinan baru dalam perspektif seni visual. Pada 2012 lalu mereka membuat wheatpaste besar-besaran di beberapa lokasi di Yogyakarta merespon perebutan ruang di kota itu.


Ace House Collective (founded in Yogyakarta, 2011) is an artist-collective which done practice on creative work through popular media and youth culture approaches, in theory and practice, contextual and conceptual, as well as finding new possibilities on the perspective of visual arts. In the 2012, they made big wheat paste in several locations in Yogyakarta, to seize public space in the city.


AGUNG “ABE” NATANAEL (Jakartr)


Agung “Abe” Natanael tidak berangkat dengan karya-karya di jalanan. Ia terinspirasi darinya. Abe, seorang fotografer-jurnalis yang fokus dalam persoalan urban. Foto-foto luar ruangnya menjadi menarik, karena mampu “bercerita”.

Agung “Abe” Natanael were not mural or graffiti artist. He was inspired from urban and rural condition. Abe is a photographer-journalist, focus on urban issues. Not only capturing and freezing the moment, Abe works could retell the situation.


ANGGA “ACIP” CIPTA (Jakarta)


Angga “Acip” Cipta tidak berangkat dengan karya-karya di jalanan. Mereka terinspirasi darinya. Acip adalah seorang seniman grafis yang gemar berbicara tentang jalanan kota melalui garis-garis dan pola-pola grafis. Sembari menghayati akan kemacetan, dan gerak-gerik orang di dalamnya, Acip sanggup menangkap narasi-narasi kecil ini dalam karyanya.

Angga “Acip” Cipta were not mural or graffti artists. he were inspired from urban and rural condition. Acip is a graphic artist who likes to talk about city street, using line and graphic patterns. When making works, he tried to narrate situation on congestion and the people inside it.


ANGGUN PRIAMBODO (Jakarta)


Anggun Priambodo, secara jenial merespon “karya-karya” Satpol PP ini dengan menambahkan semprotan aerosol berbentuk bulatan dan garis-garis putih hitam sebagai “mata dan kaki” hingga membentuk coretan itu menjadi seperti “monster”. Monster-monster ini masih ada di beberapa wilayah selatan Jakarta, terutama Blok-M dan sekitarnya. Permainan dan konsep kekanak-kanakan ini menjadi dasar ia berkarya, mulai dari video, grup musik hingga filem dan karya instalasi.

Anggun Priambodo responds Satpol PP works with humor. He made dots and lines in black and white using aerosol spray, as the “eyes and feet” to form doodles like a “monster. These monsters still appear in the south area of Jakarta, in Blok M and around. Anggun always explores his childish side for his works, ranging from video, film, music, to the installation work.


BUJANGAN URBAN (Jakarta)


Senang juga berkata- kata, Bujangan Urban berpuisi tentang kota dengan graffiti-nya. Permainan kata-kata ini membuka ruang pikir atas situasi sosial di jalanan. Dengan tagar yang ia buat, seperti #problemboys dan #supportyourlocalvandals seperti menegaskan posisi yang ia pilih dalam berkarya di jalanan. Ia turut mendirikan sebuah kolektif yang fokus dalam karya-karya di jalanan, Gardu House (Artcoholic, Tembok Bomber dan kawan-kawan dari InterStudi Jakarta pada 2011an).

He likes exploring words to express through graffiti. Sometimes his graffiti invites us to rethink our condition and situation in the street. Bujangan Urban is also active in social media. Through hashtags #problemboys and #supportyourlocalvandals, he insists his position in the street. Besides that, Bujangan Urban established collectives that focus on making the works in the street, with Gardu House (or Artcoholic, Tembok Bomber and friends from Interstudi Jakarta in 2011).


DINAS ARTISTIK KOTA (Jakarta)


Diinisiasi oleh M.G. Pringgotono, Dinas Artistik Kota (DAK) beranggotakan siapa saja yang ingin turut serta untuk kritis dan membuat kota lebih artistik. Gerakan jalanan ini diawali pada (2011) untuk membangun ide-ide, inisiatif, dan wacana kebijakan tentang artistik di ruang kota. DAK berkarya dengan objek di jalanan dan karya-karya instalasi. DAK membuat Jalur sepeda yang dilakukan di beberapa titik antara Matraman, Jalan Tambak, Pasar Rumput, hingga terowongan Dukuh Atas. Proyek ini jadi langkah pertama untuk memancing inisiatif serupa bagi para pengguna sepeda di dalam kota untuk membuat jalur sepeda di daerahnya masing-masing.

Dinas Artistik Kota (DAK), a project initiated by M.G. Pringgotono, will show street objects and installation. is project was founded in 2011, using web platform to invite as many as members who want to participate in creating the city to be more habitable. The goal is to spread ideas, initiative, and discourse on the urban planning. DAK first project was making a bicycles line in several points from Matraman, Tambak Street, Pasar Rumput, to Dukuh Atas tunnel. This project aimed to invite more initiative, so people could make the same bicycles lines in their own area.


GARDU HOUSE (Jakarta)


Gardu House menampilkan karya “parasit”, sebuah acara dalam acara, Glued #2 publik diajak berpartisipasi untuk mengirimkan karya stiker, sebanyak-banyaknya.

Gardu House had shown “parasite” works, in the Glued #2 when public was invited to participate, sending their own stickers.


KLUB KARYA BULU TANGKIS & RICKY JANITRA (Jakarta)


Klub Karya Bulu Tangkis (KKBT) yang didirikan tahun 2014, adalah anggota-anggota Kampung Segart. Mereka berinisiasi membentuk kelompok baru dan berkarya menanggapi isu-isu sosial-politik melalui karya-karya multimedia. KKBT berkolaborasi dengan Ricky Janitra dan mempresentasikan karya “Penjaskes” yang turut serta pada OK. Video: Orde Baru 2015.

Klub Karya Bulu Tangkis (KKBT) which was founded in 2014 is member of Kampung Segart. They initiated to make a new group, focus on responding social- political issues through multimedia works. KKBT has collaborated with Ricky Janitra in the OK Video: Orde Baru (New Order) Jakarta International Media Arts Festival 2015, presenting “Penjaskes”.


MILISI MURAL DEPOK (Depok)


Milisi Mural Depok (MMD) yang didirikan pada Agustus 2012 fokus pada gerakan “perlawanan-perlawanan” dengan visual, melalui mural terutama. Pada 21 Juli 2013, MMD menginisiasi gerakan mural bersama di Kota Depok tentang Sekolah MASTER (Masjid Terminal). Proses pengembangan Terminal Terpadu oleh Pemkot Depok, mengancam keberadaan sekolah anak jalanan ini. Saat ini, sebagian kelas Sekolah MASTER telah rata dengan tanah.

Milisi Mural Depok (MMD) established in August 2012, focused against the system through visual works, especially murals. On July 21, 2013, MMD initiated mural movement in Depok City, entitled Sekolah MASTER (Masjid Terminal)11. At that time, bus station development in Depok City endangered school for street children in the area. Right now, Sekolah MASTER is attened.


METHODOS (Yogyakarta)


Menurut Vendy “Methodos”, “Masyarakat punya hak untuk mendapatkan visual dan pesan yang bagus”. Ia condong untuk mengeksplorasi isu sosial dan politik untuk karyanya. Sebagai seniman yang fokus pada mural, ia telah menorehkan tagging Methodos di ruang publik sejak tahun 2012. Gambarnya berusaha “politis”, berbicara tentang negara, birokrasi maupun kesenjangan sosial dan diolahnya menjadi simbol-simbol hibrid binatang-manusia.

“People have rights to get better visual and message in the city,” said Vendy ‘Methodos’. Born in Jogja, this artist always explores social and political issues for his artworks. He used Methodos as a tagging in public space since 2012. His works are his political view, emphasizes on the state condition, bureaucracy and social inequality. He translated it into symbols: hybrid animal-human.


The Popo (Jakarta)


The Popo selalu bercerita, seperti membuat buku harian visual dalam karya-karyanya. Pengalaman sehari-harinya menjadi penting untuk merespon ruang kosong di jalanan, me-mural-nya, dengan karakter dan kata-kata akan sejarah ruang itu sendiri. “Demi Fly Over, Pohon Game Over”, mural itu dibuatnya ketika pohon-pohon di Jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan ditebang untuk pembangunan fly over

The Popo likes to tell story, his story. Reading his works is like reading a diary. His daily experience, responding empty spaces with murals using characters and words became his characteristic. Once he made mural in Pangeran Antasari Street in South Jakarta entitled “Demy Fly Over, Pohon Game Over” (For Fly Over, the Trees Game Over), responding fly over development.


Tutu (Jakarta)


Tutu berpendapat, dalam laman facebook-nya, definisi graffiti dan coret-coret tentu akan kabur (samar). Membuat mural tentu butuh sketsa juga, corat-coret dulu, belum selesai sketsa itu terbentuk sudah tertangkap oleh Satpol PP. Tetapi kesamaran ini yang membuatnya menjadi menarik, “pertarungan” menjadi lebih sengit. Tutu sendiri memulai karir graffiti-nya pada awal 2000-an, dominasi garis-garis geometris membuat unik karyanya. Perjalanan panjangnya menjadi penting dalam elaborasi karyanya dengan keseharian sosial.

Tutu, has said in his Facebook wall that graffiti and doodles definitions might be obscure. Making mural needs to make sketch first. Unfortunately, before the sketch was finished, Satpol PP suddenly appears to remove his work. This ambiguity makes the “battle” becomes fierce. Tutu started his graffiti career in the early 2000s, using geometrical lines as the characteristic of his work. His works and long career as a graffiti writer emphasizes the important of daily situation on the street.


ruangrupa (Jakarta)


Berbicara tentang stiker, ruangrupa telah melakukan pengamatan atas budaya visual sejak didirikan pada 2000 melakukan proyek riset “Stiker Kota”, dan menerbitkan buku di 2008. Stiker di ruang kota telah menjadi bagian dari perilaku sosial di masyarakat, menjadi fenomena yang sangat dinamis. Memiliki daya sebar ke ruang publik maupun privat, memiliki variasi artistik dan teknik yang beragam, dengan materi stiker yang cepat berkembang. Stiker ini ditampilkan kembali dalam pameran bersanding dengan karya Gardu House.

ruangrupa (established since 2000), which focus to observe on the visual culture, has done a research project “Stiker Kota” (city stickers) and has published a book on that project in 2008. Both ruangrupa and Garduhouse will present stickers because this visual object can reach the public and private spheres fastly. It also has variety of artistic and diverse techniques.


Stenzilla (Jakarta)


Stenzilla didirikan pada 2006 oleh Jaue Maxx (JMX) dan Nikasius Dirgahayu (Si Jago Merah), memilih stensil sebagai teknik untuk berkarya. Ekspresi-ekspresi estetis dengan isu sosial-politik menjadi inspirasi karya mereka. Duo alumnus IKJ ini mengisi tembok seluas 7×4 meter.

Stenzilla was founded in 2006 by Jaue Maxx (JMX) and Nikasius Dirgahayu (si Jago Merah), IKJ alumnae. This duo chose stencil as the technique to express the socio-political issues. They covered 7 x 4 meters wall in Indonesia National Gallery.


Visual Jalanan (Jakarta)


PROGRAMS


ARTISTS’ TALK


BUJANGAN URBAN, THE POPO, & DINAS ARTISTIK KOTA
Sabtu, 31 Oktober 2015 15.00 – 17.00 WIB
di Lobby Gedung A Galeri Nasional Indonesia


Produser pesan di ruang publik nyatanya tidak hanya berasal dari pemerintah maupun korporasi. Warga juga kerap kali urun mengeluarkan kegelisahannya melalui coretan, mural, ataupun graffiti di jalanan. Hal ini bisa dilihat sebagai taktik warga untuk bisa membuat ruang publik dan jalanan sebagai tempat yang ramah untuk ditinggali. Tak terkecuali bagi para pelaku mural dan graffiti. Jalanan dan ruang publik menjadi tempat bermain. Tindakan-tindakan mereka semata-mata menuangkan kegelisahan lewat bahasa visual masing-masing di ruang publik.

Namun apakah taktik para pelaku tersebut hanya berhenti sampai di ranah memberikan pesan di ruang publik? Strategi sendiri selalu mengumpamakan taktik sebagai “liyan” dan di kemudian hari taktik tersebut menjadi strategi. Hal ini bisa dilihat dari fenomena para pelaku mural dan graffiti yang karyanya dikomodifikasi oleh korporasi, negara, bahkan galeri dan kolektor seni. Karya para pelaku tersebut diambil sebagai strategi baru, seolah-olah mewadahi kepentingan korporasi dan negara. Tak adakah taktik bertahan lainnya?

Tiga produsen pesan lewat bahasa visual dalam diskusi kali ini merupakan individu yang memang menggunakan jalanan sebagai ruang bermain sekaligus tempat mendapatkan inspirasi untuk berkarya. Pelaku mural dan graffiti seperti Bujangan Urban dan The Popo nyatanya memiliki taktik tersendiri untuk tidak larut dalam fenomena komodifikasi pasar. Mereka mampu menciptakan fans base masing-masing lewat media sosial sehingga apa yang mereka kerjakan selalu mendapatkan apresiasi dari warga. Sedangkan MG. Pringgotono, membuat Web 2.0 dimana warga bisa menyalurkan kegelisahan tentang situasi dan kondisi jalanan dan ruang yang mereka tinggali. Hal ini bisa dilihat sebagai retorika jalanan yang berpindah ke media sosial. Lewat taktik yang mereka gunakan, mereka mampu bertahan tanpa komodifikasi dari korporat maupun pemerintah.


DISKUSI BEBAS TAPI SOPAN:
PERTARUNGAN VISUAL DI JALANAN


ARDI YUNANTO & MANSHUR ZIKRI
Sabtu, 7 November 2015 15.00 – 17.00 WIB
di Lobby Gedung A Galeri Nasional Indonesia


Jalanan sebagai ruang pertarungan pesan memiliki kesejarahannya sendiri dari waktu ke waktu. Pemerintah yang memiliki cetak biru tata kota, menjadi penguasa tunggal dalam menciptakan strategi sekaligus mengeluarkan pesan melalui bahasa visual di jalanan. Sayangnya kebijakan yang diambil dalam beberapa tahun ini, membuat kota semakin sengkarut dengan objek-objek visual yang dibuat oleh korporasi. Perkawinan antara pemerintah dan korporasi menghasilkan penguasa baru di jalanan? Lalu dimanakah posisi warga? Apakah ia masih bisa untuk ikut andil dalam memberikan pesan lewat bahasa visual di jalanan? Walaupun bisa, bagaimana dengan aparatus pemerintah yang semakin hari gencar untuk menghapus mural, graffiti, ataupun coretan sekenanya dari warga?

Pembahasan ini mengundang Ardi Yunanto selaku Koordinator Institut ruangrupa dan mantan pemimpin redaksi Jurnal Karbon, yang selama satu dekade ini fokus melihat fenomena urban di Jakarta. Penelitian Ardi tidak hanya bertumpu pada pengalamannya sendiri dalam melihat ruang, tetapi juga menyasar pada kebijakan pemerintah terkait dengan tumbuhnya papan reklame di jalanan ibu kota yang semakin pesat. Hal ini semakin menarik bila disandingkan dengan Manshur Zikri seorang penulis- penggiat media, kurator, dan Pemimpin Redaksi www.akumassa.org. Sebagai generasi yang besar pasca Reformasi, tumbuh saat objek-objek visual sudah menghiasi jalanan dan ruang publik, Zikri akan memperkaya pemahaman sebagai warga yang membaca situasi pertarungan bahasa visual di jalanan.

DOKUMENTASI/DOCUMENTATION


PEMBUKAAN PAMERAN/EXHIBITION OPENING


 


VIDEO PUBLIK/PUBLIC VIDEO


 

X