Visual Jalanan
  • ARTIKEL
  • GALERI JALANAN
  • BERKONTRIBUSI
  • ARSIP
Beautiful Wall 2012,”My City, My Identity”: Membangun Rumah Makan Di Dalam Rumah Sendiri
16751676167716791680

Beautiful Wall 2012,”My City, My Identity”: Membangun Rumah Makan Di Dalam Rumah Sendiri

Oleh by: Otty Widasari|22/04/20123 Comments

Siapa yang tahu kalau di bagian belakang lokasi kampus IKJ ada tembok-tembok bergambar, meriah layaknya coretan dinding di kota-kota dunia tempat street art berkembang seperti new York ataupun Berlin?

Tidak ada yang tahu selain orang yang punya urusan di dalam kampus IKJ sendiri, seperti mahasiswa dan dosen serta beberapa orang luar lainnya yang ‘sedang ada urusan’.

Mural adalah setiap karya seni lukis yang diterapkan secara langsung pada dinding, langit-langit atau permukaan permanen besar lainnya. Karakteristik khusus yang membedakan dari lukisan mural adalah bahwa unsur-unsur arsitektur ruang yang diberikan secara harmonis dimasukkan ke dalam gambar.

Selain karya-karya mural yang ditemukan dari masa pra modern, istilah ini menjadi lebih terkenal dengan gerakan seni di Meksiko “muralista” (Diego Rivera, David Siqueiros, atau Jose Orozco).

Diprakarsai oleh karya-karya seniman mural seperti Graham Rust atau Rainer Maria Latzke pada 1980-an, Trompe-L’oeil (teknik lukisan yang melibatkan teknik dan perhitungan tinggi untuk menyajikan objek-objek di dalam lukisan yang mampu menghasilkan ilusi utopis untuk menipu persepsi otak terhadap imaji) telah mengalami kebangkitan di gedung-gedung swasta dan publik di Eropa. Belakangan ini, keindahan mural dinding telah menjadi jauh lebih banyak tersedia dengan teknik dimana gambar lukisan atau fotografi ditransfer ke kertas poster atau kanvas yang kemudian disisipkan ke permukaan dinding (lihat wallpaper, Frescography) untuk memberikan efek baik mural yang dilukis dengan tangan atau adegan realistis.

Mural menjadi penting saat diletakkan dalam ruang publik. Merujuk pada ukurannya, biaya yang dibutuhkan dan pekerjaannya yang melibatkan kreatifitas, seorang muralis memang harus didanai oleh sponsor. Bagi si seniman, karya mereka bisa menjangkau audiens luas yang tidak menjejakkan kakinya di galeri. Kota mendapatkan keuntungan dari keindahan karya seni tersebut.

Mural secara relatif bisa jadi alat efektif dalam emansipasi sosial atau pencapaian politis. Kadang mural dibuat sebagai bentuk perlawanan terhadap hukum. Di Eropa dan Amerika, biasanya karya mural dibiayai oleh bar lokal atau warungkopi. Sering pula, efek visual yang ditimbulkan merupakan daya tarik untuk memikat perhatian publik terhadap isu lokal. Pembiayaan oleh Negara kepada ekspresi karya seni, khususnya mural, biasanya diunakan oleh sebuah rezim yang totaliter sebagai alat propaganda kontrol publik. Namun bagaimanapun, Meskipun karakter propagandis yang bekerja, beberapa dari karya tersebut masih memiliki nilai seni.

Mural dapat memiliki dampak yang dramatis baik sadar atau tidak sadar pada sikap pejalan kaki yang melewatinya, ketika mereka diletakkan di daerah di mana orang tinggal dan bekerja. Hal ini juga dapat dikatakan bahwa kehadiran mural di ruang publik dapat menambahkan perbaikan estetika untuk kehidupan sehari-hari warga.

Kalau kita kaitkan pemahaman tentang mural di atas dengan karya-karya mural yang saya temui di halaman belakang IKJ, rasanya apa yang dibuat oleh para seniman-seniman muda kreatif tersebut jadi tidak relevan.

Tentang Festival Mural

Sebelum langsung melemparkan asumsi yang tidak relevan tersebut, saya mencoba menilik kembali latar belakang kegiatan melukis mural di dinding kampus IKJ yang diadakan dalam rangka program rutin IKJ tersebut, FESTIVAL MURAL FAKULTAS SENI RUPA – INSTITUT KESENIAN JAKARTA : beautiful Wall 2012, “My City, My Identity”.

 

Kegiatan ini dimaksudkan untuk merespon pembangunan wajah kota yang terus menerus berlangsung hingga meninggalkan sisi manusiawinya. Kegiatan ini melibatkan para peserta yang terdiri dari 30 mahasiswa IKJ, pelajar SMU dari 50 sekolah, serta para alumni dan 20 Komunitas Seni Profesional yang tergabung dalam sebutan ‘seniman urban’.

Penyelanggara menyebutkan dalam proposal proyeknya bahwa seni dan masyarakat pada saat ini adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan, sehingga terjadi apresiasi yang sangat tinggi dari publik terhadap dunia seni di ruang publik. Fakultas Seni Rupa IKJ sebagai bagian dari perguruan tinggi yang berkomitmen dalam pendidikan seni rupa selalu merespon perkembangan dunia seni yang ada di masyarakat/publik. Sebagai perguruan tinggi seni, FSR-IKJ memiliki potensi-potensi yang sangat baik dalam menciptakan karya-karya di ruang publik. Berdasarkan pemahaman tersebut, diadakanlah Festifal Mural Jakarta 2012 yang berlokasi di Kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Panitia juga menyebutkan tujuan dari kegiatan ini adalah untuk antara lain :

  • memberikan pelatihan dan pengetahuan mengenai seni dan ruang publik kepada para siswa SMU/SMK JABODETABEK
  • memperkenalkan mural pada kepada masyarakat
  • memperkuat rasa kecintaan terhadap kota melalui seni
  • memperindah ruang sudut publik
  • mempererat persahabatan dan persaudaraan di antara siswa JABODETABEK
  • menyalurkan energy positif siswa melalui seni.

Kegiatan ini memiliki beberapa rangkaian acara antara lain workshop mural untuk para peserta SMU, yang berisi pengetahuan umum mengenai mural, diskusi, hingga demo praktik membuat mural (18 Maret 2012). Kemudian dilanjutkan dengan dengan kegiatan utama yaitu pembuatan mural yang dilangsungkan dalam 2 hari.  Tak lupa diadakan juga acara hiburan bagi peserta dan pengunjung pada 30-31 Maret 2012.

Karena acara ini dikemas dalam bentuk festival, maka akan diadakan penjurian serta hadiah berupa uang untuk karya terbaik dengan kategori mahasiswa dan SMU.

Kalau dilihat dari tujuan festival ini, yaitu memperkenalkan mural kepada masyarakat, maka akan timbul pertanyaan (terutama dari saya), siapa masyarakat yang dimaksud? Apakah masyarakat eksklusif yang memiliki ruang lingkup mobilitas di dalam lokasi kampus IKJ ditambah dengan komunitas sementara yang terbentuk oleh rangkaian acara ini, atau  masyarakat umum dengan jangkauan yang lebih luas? Karena dalam poin berikutnya dari daftar tujuan tersebut adalah ‘memperkuat rasa kecintaan terhadap kota melalui seni’—dan Jelas ‘kota’ termaksud adalah Jakarta—maka bisa dipastikan poin tersebut tidak akan tercapai sebagai tujuan. Seberapa jauhkan lingkungan sebuah kampus terbuka untuk diakses oleh publik yang tersirat dalam poin tujuan tersebut?

Niatan merespon situasi kota yang terus berkembang hingga meninggalkan sisi manusiawinya adalah sesuatu yang patut diapresiasi. Tentu saja harapannya adalah terjadi perubahan sosial dalam kebijakan pemerintah kota yang dirasa tidak memikirkan kelayakan ruang publik di kota tercinta ini. Namun seberapa jauh respon tersebut dapat berbunyi, untuk bisa terdengar oleh  para pembuat kebijakan kota, jika dia tersembunyi nun di dalam sebuah kampus dan tak terlihat oleh publik luas yang bisa ikut menggemakan niatan baik tersebut.

Demikian juga halnya dengan komitmen positif si institusi pendidikan seni (dalam hal ini FSR-IKJ) untuk merespon perkembangan seni yang ada di masyarakat atau publik. Pertanyaan yang sama juga saya alamatkan pada lembaga ini. Layaknya sebuah lembaga pendidikan, peran pentingnya dalam memajukan bangsa lewat hasil didikannya jadi saya pertanyakan sekali lagi. Layaknya sebuah skripsi yang dibuat oleh seorang lulusan perguruan tinggi, skripsi tersebut harus keluar dari ranahnya untuk memberi khasanah pengetahuan bagi masyarakat, bukan hanya bersemayam di rak perpustakaan tanpa menyumbangkan peran intelektualnya.

Jadi kalau karya mural itu hanya dibuat di dalam lingkungan tertutup sebuah kampus lewat sebuah festival, dia tak lebih dari pada sekedar sebuah keramaian semacam pesta untuk kalangan tertentu saja. Tak lebih.

Dalam sebuah diskusi bertama Melihat Street Art Dari Perspektif Seni Rupa yang diadakan oleh sebuah komunitas yang bergerak dalam bidang pendataan karya street art di Indonesia, ISAD (Indonesian Street Ar Data Base), Jakarta yang diadakan pada Selasa, 3 April 2012, saya banyak mendapatkan masukan mengenai gerakan street art di Indonesia. Ade Darmawan, pendiri Ruangrupa (sebuah artists’ initiative yang didirikan pada 2000 oleh sekelompok seniman di Jakarta. Organisasi nirlaba yang bergiat mendorong kemajuan gagasan seni rupa dalam konteks urban dan lingkup luas kebudayaan melalui pameran, festival, laboratorium seni rupa, lokakarya, penelitian, dan penerbitan jurnal), yang dalam diskusi itu menjadi nara sumber, mengatakan bahwa para street artist Indonesia masih bisa digolongkan dalam kategori amatir. Amatir yang dimaksud di sini adalah belum teruji dalam konteks berkaryanya. Ade melemparkan beberapa pertanyaan berkaitan dengan konteks tersebut : sudah berapa lama si seniman bergelut di bidang tersebut? Akan sampai kapan para seniman tersebut akan bertahan dengan bidang street art?

Para street artist di Indonesia masih memperlakukan tembok sebagai kanvas kosong. Tentu saja ini sebuah kesalahan besar. Sifat material kanvas yang netral berbeda dengan ruang publik (dalam hal ini tembok). Kota memiliki sejarahnya sendiri, memorinya sendiri.

 

Dalam melakukan aksi berkeseniannya, street artist masih belum memiliki kesadaran dalam membaca mengenai hal-hal penting yang seharusnya ada dalam sebuah karya, seperti bentuk, warna, yang kemudian dikaitkan ruang, sejarah, situasi kekinian yang berkaitan dengan isu sosial politik, arsitektur kota, dan lain sebagainya.

Jika ditinjau dari sudut pandang seni rupa, karya-karya yang dibuat dalam Festival Mural 2012 di IKJ ini mengalami ambiguitas. Apakah dia ingin dibaca sebagai sebuah karya lukis atau sebuah karya mural. Sebagai karya lukis dia tak perlu repot-repot diletakkan di tembok untuk mendapatkan apresiasi. Sedangkan sebagai karya mural, dia sama sekali tidak berperan apalagi berbunyi keras sebagaimana sebuah karya mural terlahir dan mengalami perkembangannya.

 

Dia tidak benar-benar merespon ruang publik yang sebenarnya, yaitu kota. Dia juga tidak mencapai target publiknya yang seharusnya berperan sebagai subjek dalam sebuah karya seni publik. Dia tidak merspon ruang serta berkomunikasi dengan arsitektur kota. Jika karya-karya mural itu bersifat kritis mengkritisi kefasisan penguasa dalam menerapkan kebijakannya, maka sebuah karya seni public yang tidak mempedulikan unsur-unsur di luar subjektifitas si senimannya, maka karya itu menjadi sama fasisnya dengan hal dia kritisi.

Alangkah baiknya jika sebuah lembaga pendidikan seni dengan mahasiwa yang berdiri di depan sebagai pemrakarsa kepedulian terhadap ruang publik melalui seni, membawa ide apresiatif itu keluar dari persemayaman ekslusifnya di dalam kampus.

 

 

»

  • More

Penulis Author

Otty Widasari

Pembuat dokumenter, penulis, pekerja riset, pemred www.akumassa.org Hampir menyelesaikan pendidikan di bidang jurnalistik (tapi ga jadi heheh) Sedang menyelesaikan pendidikan jenjang S1 di Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta

Terkait Relate

  • Penggusuran Kios-Kios Di Stasiun
    Penggusuran Kios-Kios Di Stasiun09/05/2013
  • Street Art Menantang Ruang
    Street Art Menantang Ruang06/05/2013
  • Perbanyak Lahan Hijau (Video)
    Perbanyak Lahan Hijau (Video)02/05/2013

Yang Beken & Popular

  • Street Art My Ass
    Street Art My Ass26/06/2012
  • Membaca Street Art Dengan Smart
    Membaca Street Art Dengan Smart08/04/2012
  • SAS: Street Art Surabaia
    SAS: Street Art Surabaia01/04/2012
← Pesan Keselamatan Lewat Mural
Sebuah Pengalaman ‘Melihat’ Di Jalanan →

3 Responses to Beautiful Wall 2012,”My City, My Identity”: Membangun Rumah Makan Di Dalam Rumah Sendiri

  • danny yuwanda 24/04/2012

    oh iya kenapa ya judul tidak sinkron dengan isi pembahasan yang melakukan perbandingan antara street art atau wadah dari street art (ISAD), festival mural sr ini tidak hanya memperkenalkan mural saja tapi juga meliputi workshop di dalam rangkaian acara tersebut, seperti workshop keramik, khokesi, batik, lukis konte, action figure dan workshop komik, kita memperkenalkan kesenian yang mudah di cerna untuk masyarakat awam dan mudah di kerjakan di rumah. orang awam pun untuk meracik warna primer menjadi skunder dan tertier pun masih perlu bimbingan dan perhatian, terimakasih untuk pembahasanya serta kritiknya, kami akan lebih baik dengan kritik masyarakat terhadap kami FSR ikj

    Reply
  • otty 26/04/2012

    terimakasih atas apresiasinya. mungkin dalam tulisan ini saya memang tidak memuat keseluruhan program workshop2 yang ada, yang membuat seolah penulis tidak mengapresiasi rangkaian program tsb. saya terima kritik ini sebagai masukan. tulisan ini memang fokus meng-hilignt mengenai mural, dan kebetulan sedang dibuat di dalam kampus IKJ berkaitan dengan festifal tersebut.
    kalau dibaca lebih jauh, saya samasekali tidak membuat perbandingan antara street art dengan sebuah wadah tertentu. kebetulan saya mengutip quote dari Ade Darmawan (seorang kurator dan salah satu pelaku seni rupa kontemporer di Indonesaia) yang dia ungkapkan dalam sebuah diskusi yang (kebetulan) diadakan di ISAD.

    Reply
  • lowongan broker property 20/09/2012

    Gambar2 muralnya bagus-bagus. Dari dulu pengen belajar gambar tapi kok kyknya gak bakat ya :(

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Aktuil New

  • Penggusuran Kios-Kios Di Stasiun
    Penggusuran Kios-Kios Di Stasiun 09/05/2013

    Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama Paguyuban Pedag...

  • Street Art Menantang Ruang
    Street Art Menantang Ruang 06/05/2013

    27 April 2013, roemah 9a membuka sebuah pameran berjudul “Street Art Menantang R...

  • Perbanyak Lahan Hijau (Video)
    Perbanyak Lahan Hijau (Video) 02/05/2013

    What do we need? We just need a better place to live......

  • Himbauan Penggunaan Helm di Spanduk Majelis
    Himbauan Penggunaan Helm di Spanduk Majelis 29/04/2013

    Spanduk tersebut mencantumkan sebuah imbauan yang menarik. “Acara pria & wanita,...

  • AS SOON AS POSSIBLE!!
    AS SOON AS POSSIBLE!! 25/04/2013

    Pameran Seni Rupa Dua Kota LEMPUYANGAN - PASARSENEN AS SOON AS POSSIBLE!! Galeri...

Terkait Relate

  • Penggusuran Kios-Kios Di Stasiun
    Penggusuran Kios-Kios Di Stasiun 09/05/2013

    Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama Paguyuban Pedag...

  • Street Art Menantang Ruang
    Street Art Menantang Ruang 06/05/2013

    27 April 2013, roemah 9a membuka sebuah pameran berjudul “Street Art Menantang R...

Kamu juga bisa ikutan posting di instagram dengan mention @VisualJalanan dan hashtag #visualjalanan untuk nanti
dimuat di "Galeri Jalanan".

Coba Tanya Try Ask.

Tweet

Tweets by @VisualJalanan

Yang Beken & Popular

  • Street Art My Ass
    Street Art My Ass 26/06/2012

    kita tidak sedang mencoba melihat fenomena graffiti lokal sama dengan cerita-cer...

  • Membaca Street Art Dengan Smart
    Membaca Street Art Dengan Smart 08/04/2012

    Mural dan street art berhasil meredam teror visual yang ditembakkan iklan komers...

Komentar & Comment

  • Celebrating Arts of Today | Keluarga Esjepe on ARTE Indonesia Art Festival 2013
  • fazrienario on ARTE Indonesia Art Festival 2013
  • Andang Kelana on ARTE Indonesia Art Festival 2013
  • visualjalanan on WC di Pinggir Jalan
Ruru Shop RadioUrban CultArkipel FestivalToy Works
Follow Us on BloggerFollow Us on EmailFollow Us on FacebookFollow Us on RSSFollow Us on Twitter
© Sejak Maret 2012 // Visual Jalanan.
  • BERANDA
  • TENTANG ABOUT
  • REDAKSI
  • KAMPUNG SEGART
  • FORUM LENTENG
loading Cancel
Post was not sent - check your email addresses!
Email check failed, please try again
Sorry, your blog cannot share posts by email.