Bagi masyarakat yang tinggal di kota-kota besar pastilah tidak asing lagi dengan kata “macet”. Seperti sudah menjadi makanan sehari-hari bagi para pekerja atau siapa pun yang memiliki aktifitas di kota besar seperti Jakarta. Namun, beberapa kali masyarakat khususnya yang berdomisili di daerah selatan, pastilah pernah terjebak dalam kemacetan yang bukan disebabkan oleh hal-hal seperti biasanya. Jika biasanya kita terjebak macet karena ada galian listrik, pembetulan jalan atau bahkan kecelakaan sekalipun, mungkin sudah kebal. Lain halnya dengan kemacetan yang satu ini.
Mengadakan kegiatan agama tentulah tidak ada larangan bagi siapapun, namun yang sempat marak akhir-akhir ini adalah adanya kegiatan agama yang dilakukan beberapa organisasi muslim. Tidak ada yang merasa terganggu dengan adanya kegiatan pengajian beberapa majelis tersebut. Sampai akhirnya, ada beberapa majelis yang mulai mengadakan kegiatan dengan menggunakan fasilitas publik, yaitu jalan raya. Tidak tanggung-tanggung satu bahu jalan raya pernah ada yang ditutup dan digunakan sebagai lahan parker, ada juga yang mendirikan mimbarnya di tengah jalan. Dampaknya tentu sudah bisa ditebak, apalagi kalau bukan timbulnya kemacetan sampai berpuluh-puluh meter. Berbagai keluhan berkicau di social media, mengeluhkan kemacetan yang ditimbulkan kegiatan tersebut. Memang kadang terlihat ada beberapa pihak polisi yang membantu melancarkan arus jalan, tapi tidak membantu banyak, karena massa majelis yang mengikuti kegiatan tersebut sangat banyak, mungkin sampai ratusan lebih.
Hal itulah yang membuat Dalu Kusuma, Mahasiswa jurusan iklan di salah satu Perguruan Tinggi swasta di Jakarta, membuat karya stencil dari salah satu sosok yang sudah tidak asing visualnya karena spanduknya yang sering kita temukan disetiap beberapa puluh meter jalan raya dengan ukuran yang beragam. Yaitu sosok tokoh majelis tersebut dengan diberi tambahan teks “Bikin macet dimana lagi?”. Sebagai pengguna jalan, Dalu ingin menyalurkan kritiknya terhadap sikap yang dilakukan beberapa organisasi agama tersebut, karena sikap mereka dengan menutup jalan raya dan digunakan untuk melakukan kegiatan agama bukan keputusan yang tepat. Kegiatan agama yang seharusnya menimbulkan kedamaian, di lain sisi justru menimbulkan keresahan. Tentunya siapapun bisa bersikap bijak jika ingin mengadakan kegiatan dengan massa yang mencapai ratusan. Masih banyak masjid, gedung, lapangan luas yang bisa digunakan, tapi mengapa harus jalan raya yang dipilih?




semoga habib ini dan cecoro-cecoronya sadar, gak bikin macet dan pasang spanduk guede-guede ‘gak perlu’ karena ibadah gak gitu-gitu amat yah!! si amat juga gak begitu-gitu ibadahnya. :p